CONTOH KEBUDAYAAN INDONESIA
1. Upacara Tabuik Sumatera Barat.

Berasal dari kata ‘tabut’, dari
bahasa Arab yang berarti mengarak, upacara Tabuik merupakan sebuah tradisi
masyarakat di pantai barat, Sumatera Barat, yang diselenggarakan secara turun menurun.
Upacara ini digelar di hari Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam
kalender Islam.
Konon, Tabuik dibawa oleh penganut Syiah dari timur tengah ke Pariaman, sebagai peringatan perang Karbala. Upacara ini juga sebagai simbol dan bentuk ekspresi rasa duka yang mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad SAW itu. Karena kemeriahan dan keunikan dalam setiap pagelarannya, Pemda setempat pun kemudian memasukkan upacara Tabuik dalam agenda wisata Sumatera Barat dan digelar setiap tahun.
Konon, Tabuik dibawa oleh penganut Syiah dari timur tengah ke Pariaman, sebagai peringatan perang Karbala. Upacara ini juga sebagai simbol dan bentuk ekspresi rasa duka yang mendalam dan rasa hormat umat Islam di Pariaman terhadap cucu Nabi Muhammad SAW itu. Karena kemeriahan dan keunikan dalam setiap pagelarannya, Pemda setempat pun kemudian memasukkan upacara Tabuik dalam agenda wisata Sumatera Barat dan digelar setiap tahun.

Dua minggu menjelang pelaksanaan
upacara Tabuik, warga Pariaman sudah sibuk melakukan berbagai persiapan. Mereka
membuat serta aneka penganan, kue-kue khas dan Tabuik. Dalam masa ini, ada pula
warga yang menjalankan ritual khusus, yakni puasa.
Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda, berkepala manusia, yang tegap dan bersayap. Oleh umatIslam, binatang ini disebut Buraq dan dianggap sebagai binatang gaib. Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya.
Selain sebagai nama upacara, Tabuik juga disematkan untuk nama benda yang menjadi komponen penting dalam ritual ini. Tabuik berjumlah dua buah dan terbuat dari bambu serta kayu. Bentuknya berupa binatang berbadan kuda, berkepala manusia, yang tegap dan bersayap. Oleh umatIslam, binatang ini disebut Buraq dan dianggap sebagai binatang gaib. Di punggung Tabuik, dibuat sebuah tonggak setinggi sekitar 15 m. Tabuik kemudian dihiasi dengan warna merah dan warna lainnya dan akan di arak nantinya.
2. Makepung, Balap Kerbau Masyarakat Bali.

Kalau Madura punya Kerapan Sapi,
maka Bali memiliki Makepung. Dua tradisi yang serupa tapi tak sama, namun
menjadi tontonan unik yang segar sekaligus menghibur. yang dalam bahasa
Indonesia berarti berkejar-kejaran, adalah tradisi berupa lomba pacu kerbau
yang telah lama melekat pada masyarakat Bali, khususnya di Kabupaten Jembrana.
Tradisi ini awalnya hanyalah permainan para petani yang dilakukan di sela-sela kegiatan membajak sawah di musim panen. Kala itu, mereka saling beradu cepat dengan memacu kerbau yang dikaitkan pada sebuah gerobak dan dikendalikan oleh seorang joki.
Tradisi ini awalnya hanyalah permainan para petani yang dilakukan di sela-sela kegiatan membajak sawah di musim panen. Kala itu, mereka saling beradu cepat dengan memacu kerbau yang dikaitkan pada sebuah gerobak dan dikendalikan oleh seorang joki.

Makin lama, kegiatan yang semula
iseng itu pun berkembang dan makin diminati banyak kalangan. Kini, Makepung
telah menjadi salah satu atraksi budaya yang paling menarik dan banyak ditonton
oleh wisatawan termasuk para turis asing. Tak hanya itu, lomba pacu kerbau
inipun telah menjadi agenda tahunan wisata di Bali dan dikelola secara
profesionalSekarang ini, Makepung tidak hanya diikuti oleh kalangan petani
saja.
Para pegawai dan pengusaha dari kota pun banyak yang menjadi peserta maupun supporter. Apalagi, dalam sebuah pertarungan besar, Gubernur Cup misalnya, peserta Makepung yang hadir bisa mencapai sekitar 300 pasang kerbau atau bahkan lebih. Suasana pun menjadi sangat meriah dengan hadirnya para pemusik jegog(gamelan khas Bali yang terbuat dari bambu) untuk menyemarakkan suasana lomba.
3. Atraksi Debus Banten
Para pegawai dan pengusaha dari kota pun banyak yang menjadi peserta maupun supporter. Apalagi, dalam sebuah pertarungan besar, Gubernur Cup misalnya, peserta Makepung yang hadir bisa mencapai sekitar 300 pasang kerbau atau bahkan lebih. Suasana pun menjadi sangat meriah dengan hadirnya para pemusik jegog(gamelan khas Bali yang terbuat dari bambu) untuk menyemarakkan suasana lomba.
3. Atraksi Debus Banten

Atraksi yang sangat berbahaya yang
biasa kita kenal dengan sebutan Debus, Konon kesenian bela diri debus berasal
dari daerah al Madad. Semakin lama seni bela diri ini makin berkembang dan
tumbuh besar disemua kalangan masyarakat banten sebagai seni hiburan untuk
masyarakat.
Inti pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan penggunaan senjata. Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam, dan semacam senjata tajam ini disebut dengan debus.
Inti pertunjukan masih sangat kental gerakan silat atau beladiri dan penggunaan senjata. Kesenian debus banten ini banyak menggunakan dan memfokuskan di kekebalan seseorang pemain terhadap serangan benda tajam, dan semacam senjata tajam ini disebut dengan debus.

Kesenian ini tumbuh dan berkembang
sejak ratusan tahun yang lalu, bersamaan dengan berkembangnya agama islam di
Banten. Pada awalnya kesenian ini mempunyai fungsi sebagai penyebaran agama,
namun pada masa penjajahan belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Agung
Tirtayasa. Seni beladiri ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan
rakyat banten melawan penjajahan yang dilakukan belanda. Karena pada saat itu
kekuatan sangat tidak berimbang, belanda yang mempunyai senjata yang sangat
lengkap dan canggih.
Terus mendesak pejuang dan rakyat banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus.
Terus mendesak pejuang dan rakyat banten, satu satunya senjata yang mereka punya tidak lain adalah warisan leluhur yaitu seni beladiri debus.
4. Karapan sapi Masyarakat Madura Jawa Timur

Karapan sapi yang merupakan
perlombaan pacuan sapi yang berasal dari Madura Jawa Timur, Dalam even karapan
sapi para penonton tidak hanya disuguhi adu cepat sapi dan ketangkasan para
jokinya, tetapi sebelum memulai para pemilik biasanya melakukan ritual
arak-arakan sapi disekelilingi pacuan disertai alat musik seronen perpaduan
alat music khas Madura sehingga membuat acara ini menjadi semakin meriah.

Panjang rute lintasan karapan sapi
tersebut antara 180 sampai dengan 200 meter, yang dapat ditempuh dalam waktu 14
sd 18 detik. Tentu sangat cepat kecepatan sapi – sapi tersebut, selain
kelihaian joki terkadang bamboo yang digunakan untuk menginjak sang joki
melayang diudara karena cepatnya kecepatan sapi sapi tersebut.
Untuk memperoleh dan menambah kecepatan laju sapi tersebut sang joki, pangkal ekor sapi dipasangi sabuk yang terdapat penuh paku yang tajam dan sang joki melecutkan cambuknya yang juga diberi duri tajam kearah bokong sapi. Tentu saja luka ini akan membuat sapi berlari lebih kencang, tetapi juga menimbulkan luka disekitar pantat sapi.
Jarak pemenang terkadang selisih sangat tipis, bahkan tidak jarang hanya berjarak 1 sd 2 detik saja. Karapan Sapi dimadura merupakan pagelaran yang sangat unik, selain sudah diwarisi secara turun menurun tradisi ini juga terjaga sampai sekarang. Even ini dijadikan sebagai even pariwisata di Indonesia, dan tidak hanya turis local dari mancanegara pun banyak yang menyaksikan karapan sapi ini.
Untuk memperoleh dan menambah kecepatan laju sapi tersebut sang joki, pangkal ekor sapi dipasangi sabuk yang terdapat penuh paku yang tajam dan sang joki melecutkan cambuknya yang juga diberi duri tajam kearah bokong sapi. Tentu saja luka ini akan membuat sapi berlari lebih kencang, tetapi juga menimbulkan luka disekitar pantat sapi.
Jarak pemenang terkadang selisih sangat tipis, bahkan tidak jarang hanya berjarak 1 sd 2 detik saja. Karapan Sapi dimadura merupakan pagelaran yang sangat unik, selain sudah diwarisi secara turun menurun tradisi ini juga terjaga sampai sekarang. Even ini dijadikan sebagai even pariwisata di Indonesia, dan tidak hanya turis local dari mancanegara pun banyak yang menyaksikan karapan sapi ini.
5. Upacara Kasada Bromo

Upacara
Kasada bromo dilakukan oleh masyarakat Tengger yang bermukim di Gunung Bromo
Jawa Timur, mereka melakukan ritual ini untuk mengangkat seorang Tabib atau dukun
disetiap desa. Agar mereka dapat diangkat oleh para tetua adat, mereka harus
bisa mengamalkan dan menghafal mantera mantera.
Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo. Pada malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun sepuh yang dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir gunung bromo.
Bagi masyarakat Tengger, peranan Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara – acara ritual, perkawinan dll.
Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus ujian dengan cara menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra. Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar.
Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo.
Reff:http://wilayahindonesia.blogdetik.com/2009/09/09/5-kebudayaan-unik-indonesia/
Beberapa hari sebelum Upacara Kasada bromo dimulai, mereka mengerjakan sesaji sesaji yang nantinya akan dilemparkan ke Kawah Gunung Bromo. Pada malam ke 14 bulan Kasada Masyarakat tengger berbondong bondong dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai macam hasil pertanian dan ternak. Lalu mereka membawanya ke Pura dan sambil menunggu Dukun sepuh yang dihormati datang mereka kembali menghafal dan melafalkan mantera, tepat tengah malam diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat dipoten lautan pasir gunung bromo.
Bagi masyarakat Tengger, peranan Dukun adalah sangat penting. Karena mereka bertugas memimpin acara – acara ritual, perkawinan dll.
Sebelum lulus mereka diwajibkan lulus ujian dengan cara menghafal dan lancar dalam membaca mantra mantra. Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar.
Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo.
Reff:http://wilayahindonesia.blogdetik.com/2009/09/09/5-kebudayaan-unik-indonesia/
KEBUDAYAAN PAPUA
Papua adalah sebuah provinsi
Indonesia yang terletak dibagian tengah pulau Papua atau bagian paling timur West
New Guinea (Irian Jaya). Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini
atau East New Guinea.
Provinsi Papua dulu mencakup seluruh
wilayah papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat
terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), para Nasionalis yang ingin
memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa
pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini
Belanda (Nederlands New Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada
dibawah penguasaan Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai provinsi Irian Barat
sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh
Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas freeport, nama yang
tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.
Nama provinsi ini diganti menjadi
Papua sesuai dengan UU No. 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus Papua. Pada
tahun 2004, disertai oleh berbagai protes, papua dibagi menjadi 2 provinsi oleh
pemerintah Indonesia : Bagian timur tetap memakai nama Papua, sedangkan bagian
baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (Setahun kemudian menjadi Papua
Barat). bagian timur inilah yang menjadi wilayah provinsi Papua pada saat ini.
Kata Papua sendiri berasal dari bahasa Melayu yang berarti rambut keriting,
sebagian gambaran yang memacu pada penampilan fisik suku-suku asli.
Provinsi Papua dulu mencakup seluruh
wilayah papua bagian barat, sehingga sering disebut sebagai Papua Barat
terutama oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM), para Nasionalis yang ingin
memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri. Pada masa
pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini
Belanda (Nederlands New Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada
dibawah penguasaan Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai provinsi Irian Barat
sejak tahun 1969 hingga 1973. Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh
Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas freeport, nama yang
tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.Nama provinsi ini diganti
menjadi Papua sesuai dengan UU No. 21 Tahun 2001 tentang otonomi khusus Papua.
Pada tahun 2004, disertai oleh berbagai protes, papua dibagi menjadi 2 provinsi
oleh pemerintah Indonesia : Bagian timur tetap memakai nama Papua, sedangkan
bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat (Setahun kemudian menjadi
Papua Barat). bagian timur inilah yang menjadi wilayah provinsi Papua pada saat
ini. Kata Papua sendiri berasal dari bahasa Melayu yang berarti rambut
keriting, sebagian gambaran yang memacu pada penampilan fisik suku-suku asli.
Bentuk dan Nama
Kita ketahui sebelum diganti nama
menjadi Papua, wilayah bagian timur Indonesia ini bernama Irian jaya. Pada
peta Indonesia pulau Papua memiliki bentuk seperti sebuah burungraksasa. Mungin
juga ada yang menganggapnya lebih mirip dengan seekor dinosaurus,
yaitu binatang dari kala Mesozoikum yang kini telah punah.Sekitar 47%
wilayah Papua yang ada di sebelah barat, ³kepala´, ³tengkuk´,
³punggung¶¶,³leher´, ³:dada´,m dan ³perut´ merupakan wilayah milik Indonesia,
sisanya merupakanwilayah negara tetanga, Papua Nugini.. Oleh para Pelaut
Indonesia Bagian ³kepalanya´disebut Doreh ,lima gigi karena
semenanjung-semenanjungnya yang meruncing denganteluk-teluk yang sempit di
dalam daerah tersebut (teluk Wandamen, dan teluk umar disebelah utara, teluk
Berau
, teluk sebakor dan teluk Arguni di
sebelah selatan mirip gigi-gigi). Daerah iniyang disebut kepala burung. Bagian
belakan kepala dan tengkuknya di bentuk oleh teluk yang sangat besar yaitu
teluk Cendrawasih
. Disini terdapat beberapa pulau
seperti pulauYapen, Supriori, Biak, Numfor dan beberapa pulau kecil lainya. Di
bagian punggung dari burung atau dinosaurus ada sebuah tanjung dengan
garis pantai yang membujur ke arah timur dengan suatu deret pegunungan
yang sejajar dengan garis pantai yang seakan-akanmerupakan tulang punggungnya.
Bagian leher dan dada dibentuk oleh suatu garis pantai yangmembujur dari derah
kepala burung ke arah timur, yang kemudian berbelok ke arah tenggara.Di bagian
selatan terletak pulau Yos Sudarso (dulu bernama Pulau Frederik Hendrik
atauKolepom), yang terpisan dari pantai Papua oleh selat sempit sehingga di
peta pulau tadiseakan-akan menyatu dengan daratan Papua. Pantai selatan Papua
merupakan Perutnya.Sebutan
Nieuw Guinea
yang di gunakan oleh Bangsa Belanda
mula-mula digunakan olehseoran pelaut spanyol, Ynigo ortiz De Retes. Yang dalam
tahun 1545 pernah mengunjungi pantai utara Papua dan emnamakanya
Nueva Guinea
(Guinea Baru). Kulit penduduk Papua
Kebudayaan
Papua sangat banyak : 224 bahasa (1978)
Tipe pemukiman
: 4 kelompok
Penduduk pesisir pantai: Nelayan, berkebun dan meramu
sagu Komunikasi dengan kota dan masyarakat luar sudah tidak asing bagi mereka.
Penduduk pedalaman yang mendiami dataran rendah;
Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu di hutan; mengembara dalam kelompok kecil. Adat Istiadat mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru.
Mereka termasuk peramu sagu, berkebun, menangkap ikan disungai, berburu di hutan; mengembara dalam kelompok kecil. Adat Istiadat mereka ketat dan selalu mencurigai pendatang baru.
Penduduk
pegunungan yang mendiami lembah;
bercocok tanam, memelihara babi, berburu dan memetik hasil dari hutan; pemukimannya berkelompok, dengan penampilan yang ramah bila dibandingkan dengan penduduk tipe kedua (2). Adat istiadat dijalankan secara ketat dengan "Pesta Babi". Ketat dalam memegang dan menepati janji. Pembalasan dendam merupakan suatu tindakan heroisme dalam mencari keseimbangan sosial melalui "Perang Suku" yang dapat diibaratkan sebagai pertandingan atau kompetisi. Sifat curiga tehadap orang asing ada tetapi tidak seketat penduduk tipe 2 (kedua).
Penduduk
pegunungan yang mendiami lereng-lereng gunung;
Adat istiadat mereka sangat ketat, sebagian masih "KANIBAL", dan bunuh diri merupakan tindakan terpuji bila melanggar adat karena akan menghindarkan bencana dari seluruh kelompok masyarakatnya. Perang suku merupakan aktivitas untuk pencari keseimbangan sosial, dan curiga pada orang asing cukup tinggi juga.
•
Khusus pada
topik ini kita akan membicarakan mengenai suku Dani yang tinggal di lembah
Baliem.
•
Suku Dani adalah salah satu sukubangsa yang terdapat di Wamena, PapuaSuku-suku lain : Yali dan Lani. Suku Yali adalah salah satu suku
yang mendiami bagian selatan di antara perbatasan Wamena dan Merauke, sedangkan suku Lani mendiami bagian sebelah barat dari
suku Dani.
•
Masyarakat Dani
sudah terisolasi alam lembah Baliem
selama ribuan tahun.
•
Pertumbuhan
penduduknya relatif rendah akibat tingkat kesehatan dan gizi yang kurang baik.
Mata pencahariaannya adalah
Peternakan:
Babi
merupakan
prestise dan melambangkan status sosial seseorang. bisa menyebalkan pecahnya
perang suku, dan binatang ini juga berperan sebagai mas kawin (uang mahar),
tetapi mata
pencaharian utama mereka adalah bercocok tanam di ladang.Tanaman utama
sekaligus makanan pokok adalah Hipere atau ubi jalar.
Adat istiadatnya dan religinya :
•
Di daerah ini
masih banyak orang yang mengenakan holim (koteka) (penutup penis) yang terbuat dari kunden
kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah berasal dari rumput/serat
•
Masyarakat
Dani percaya pada kekuatan gaib, roh leluhur dan roh-roh kerabat yang telah
meninggal.
•
Hubungan
antara orang yang masih hidup dengan roh leluhur dan roh orang yang telah
meninggal lainnya dilakukan melalui upacara.
•
Berduka:
Memutus jari dan melumuri muka dengan tanah liat ketika berduka
System
kekerabatannya
•
Masyarakat
Dani tidak mengenal konsep keluarga batih, di mana bapak, ibu, dan anak
tinggal dalam satu rumah. Mereka adalah masyarakat komunal. Maka jika rumah
dipandang sebagai suatu kesatuan fisik yang menampung aktivitas-aktivitas
pribadi para penghuninya, dalam masyarakat Dani unit rumah tersebut adalah sili.
•
Pada dasarnya
silimo / sili merupakan komplek tempat kediaman yang terdiri dari beberapa unit
bangunan beserta perangkat lainnya.
•
Perkampungan
tradisional di Wamena dengan rumah-rumah yang dibuat bernbentuk bulat beratap
ilalang dan dindingnya dibuat dari kayu tanpa jendela.Rumah seperi ini disebut honai
•
Komplek
bangunan biasanya terdiri dari unsur-unsur unit bangunan yang dinamakan: rumah
laki-laki (Honei/pilamo), rumah perempuan (ebe-ae/ Ebei ), dapur (hunila) dan
kandang babi (wamdabu/Wamai ).
Persoalan social yang di alaminya
adalah :
•
Perang:
1.
Gadis:
penyelesaian lima babi atau uang
2.
Istri
selingkuh: penyelesain lima ekor babi
3.
Pencurian
benda berharga: kerang, hewan, babi
4.
Orang sakit
ketika berladang, anak bermain,
5.
Tanah
•
Kasus:
–
Konflik ini
dimulai ketika seorang anak suku Damal meninggal dunia dan suku Dani dituduh
sebagai pembunuhnya.
–
Tanda
"gencatan senjata" berupa mematahkan panah dan memanah anak babi di
masing-masing kubu.
–
Pembayaran
denda untuk menyelesaikan masalah
KEBUDAYAAN KALIMANTAN
Persebaran
suku-suku Dayak di Pulau Kalimantan.
Dikarenakan arus migrasi yang kuat dari
para pendatang, Suku Dayak yang masih mempertahankan adat budayanya akhirnya
memilih masuk ke pedalaman. Akibatnya, Suku Dayak menjadi terpencar-pencar dan
menjadi sub-sub etnis tersendiri.
Kelompok Suku Dayak, terbagi dalam
sub-sub suku yang kurang lebih jumlahnya 405 sub (menurut J. U. Lontaan, 1975).
Masing-masing sub suku Dayak di pulau Kalimantan mempunyai adat istiadat dan
budaya yang mirip, merujuk kepada sosiologi kemasyarakatannya dan perbedaan
adat istiadat, budaya, maupun bahasa yang khas. Masa lalu masyarakat yang kini
disebut suku Dayak, mendiami daerah pesisir pantai dan sungai-sungai di
tiap-tiap pemukiman mereka.
Etnis Dayak Kalimantan menurut seorang
antropologi J.U. Lontaan, 1975 dalam Bukunya Hukum Adat dan Adat Istiadat
Kalimantan Barat, terdiri dari 6 suku besar dan 405 sub suku kecil, yang
menyebar di seluruh Kalimantan.
Pengertian Suku Dayak
Dayak atau Daya adalah nama yang oleh
penduduk pesisir pulau Borneo diberi kepada penghuni pedalaman yang mendiami
Pulau Kalimantan yang meliputi Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan . Budaya masyarakat
Dayak adalah Budaya Maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak
mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan "perhuluan"
atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.
Ada yang membagi orang Dayak dalam enam
rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara
ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau
Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan:
- "Barito Raya (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau),
- "Dayak Darat" (13 bahasa)
- "Borneo Utara" (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina.
- "Sulawesi Selatan" dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka.
- "Melayik" dituturkan 3 suku Dayak: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais yang digolongkan bahasa Melayu), Dayak Iban dan Dayak Kendayan (Kanayatn). Tidak termasuk Banjar, Kutai, Berau, Kedayan (Brunei), Senganan, Sambas yang dianggap berbudaya Melayu. Sekarang beberapa suku berbudaya Melayu yang sekarang telah bergabung dalam suku Dayak adalah Tidung, Bulungan (keduanya rumpun Borneo Utara) dan Paser (rumpun Barito Raya).
Bahasa
Dayak Kanayatn
memakai bahasa ahe/nana' serta damea/jare dan yang serumpun. Sebenarnya secara
isologis (garis yang menghubungkan persamaan dan perbedaan kosa kata yang
serumpun) sangat sulit merinci khazanah bahasanya. Ini dikarenakan bahasa yang
dipakai sarat dengan berbagai dialek dan juga logat pengucapan. Beberapa
contohnya ialah : orang Dayak Kanayatn yang mendiami wilayah Meranti
(Landak) yang memakai bahasa ahe/nana' terbagi lagi ke dalam bahasa behe,
padakng bekambai, dan bahasa moro. Dayak Kanayatn di kawasan Menyuke (Landak)
terbagi dalam bahasa satolo-ngelampa', songga batukng-ngalampa' dan
angkabakng-ngabukit. selain itu percampuran dialek dan logat menyebabkan
percampuran bahasa menjadi bahasa baru.
Adat Istiadat Suku Dayak
Di bawah ini ada
beberapa adat istiadat suku dayak yang masih terpelihara hingga kini, dan dunia
supranatural Suku Dayak pada zaman dahulu maupun zaman sekarang yang masih kuat
sampai sekarang. Adat istiadat ini merupakan salah satu kekayaan budaya yang
dimiliki oleh Bangsa Indonesia, karena pada awal mulanya Suku Dayak berasal
dari pedalaman Kalimantan.
1.
Upacara
Tiwah
Upacara Tiwah merupakan
acara adat suku Dayak. Tiwah merupakan upacara yang dilaksanakan untuk
pengantaran tulang orang yang sudah meninggal ke Sandung yang sudah di buat.
Sandung adalah tempat yang semacam rumah kecil yang memang dibuat khusus untuk
mereka yang sudah meninggal dunia.
2.
Dunia
Supranatural
Dunia Supranatural
bagi Suku Dayak memang sudah sejak jaman dulu merupakan ciri khas kebudayaan
Dayak. Karena supranatural ini pula orang luar negeri sana menyebut Dayak
sebagai pemakan manusia ( kanibal ). Namun pada kenyataannya Suku Dayak adalah
suku yang sangat cinta damai asal mereka tidak di ganggu dan ditindas
semena-mena. Kekuatan supranatural Dayak Kalimantan banyak jenisnya, contohnya
Manajah Antang. Manajah Antang merupakan cara suku Dayak untuk mencari petunjuk
seperti mencari keberadaan musuh yang sulit di temukan dari arwah para leluhur
dengan media burung Antang, dimanapun musuh yang di cari pasti akan ditemukan.
Seni Tari Dayak
1. Tari Gantar
Tarian yang
menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan
kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian
didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.
Tarian ini cukup
terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara
lainnya.Tari ini
tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh
suku Dayak Benuaq.
Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn,
Gantar Busai dan
Gantar Senak/Gantar Kusak.
2.
Tari Kancet Papatai / Tari Perang
Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak
Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit,
penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari.
Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian
tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti
mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan
hanya menggunakan alat musik Sampe.
3.
Tari Kancet Ledo / Tari Gong
Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan
keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan
kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut
ditiup oleh angin.
Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai
pakaian Tari Kancet Ledo tradisional suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu
ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga
Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.
4.
Tari Kancet Lasan
Menggambarkan
kehidupan sehari-hari burung Enggang, burung yang dimuliakan oleh
suku Dayak Kenyah karena dianggap sebagai tanda keagungan
dan kepahlawanan. Tari Kancet Lasan merupakan tarian tunggal wanita suku Dayak
Kenyah yang sama gerak dan posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari
tidak mempergunakan gong dan bulubulu burung Enggang dan juga si penari banyak
mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh
lantai.
Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung
Enggang ketika terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon. Posisinya seperti Tari Kancet Ledo, namun si penari tidak
mempergunakan gong dan bulubulu burung Enggang dan juga si penari banyak
mempergunakan posisi merendah dan berjongkok atau duduk dengan lutut menyentuh
lantai. Tarian ini lebih ditekankan pada gerak-gerak burung Enggang ketika
terbang melayang dan hinggap bertengger di dahan pohon.
5.
Tari Leleng
Tarian ini menceritakan seorang gadis bernama Utan Along
yang akan dikawinkan secara paksa oleh orangtuanya dengan pemuda yang tak
dicintainya. Utan Along akhirnya melarikan diri kedalam hutan. Tarian gadis
suku Dayak Kenyah ini ditarikan dengan diiringi nyanyian lagu Leleng.
Senjata Tradisional Suku Dayak
Pada zaman penjajahan
di Kalimantan dahulu kala, serdadu Belanda bersenjatakan senapan dengan teknologi mutakhir pada masanya, sementara prajurit
Dayak umumnya hanya mengandalkan sumpit. Akan tetapi, serdadu Belanda ternyata
jauh lebih takut terkena anak sumpit ketimbang prajurit Dayak diterjang peluru.
Berikut ini adalah senjata-senjata tradisional suku dayak :
1.
Sipet
/ Sumpitan. Merupakan senjata utama suku dayak. Bentuknya bulat dan berdiameter
2-3 cm, panjang 1,5 - 2,5 meter, ditengah-tengahnya berlubang dengan diameter
lubang ¼ - ¾ cm yang digunakan untuk memasukan anak sumpitan (Damek). Ujung
atas ada tombak yang terbuat dari batu gunung yang diikat dengan rotan dan
telah di anyam. Anak sumpit disebut damek, dan telep adalah tempat anak
sumpitan.
2.
Lonjo
/ Tombak. Dibuat dari besi dan dipasang atau diikat dengan anyaman rotan dan
bertangkai dari bambu atau kayu keras.
3.
Telawang
/ Perisai. Terbuat dari kayu ringan, tetapi liat. Ukuran panjang 1 – 2 meter
dengan lebar 30 – 50 cm. Sebelah luar diberi ukiran atau lukisan dan mempunyai
makna tertentu. Disebelah dalam dijumpai tempat pegangan.
4.
Mandau.
Merupakan senjata utama dan merupakan senjata turun temurun yang dianggap
keramat. Bentuknya panjang dan selalu ada tanda ukiran baik dalam bentuk
tatahan maupun hanya ukiran biasa. Mandau dibuat dari batu gunung, ditatah,
diukir dengan emas/perak/tembaga dan dihiasi dengan bulu burung atau rambut
manusia. Mandau mempunyai nama asli yang disebut “Mandau Ambang Birang Bitang
Pono Ajun Kajau”, merupakan barang yang mempunyai nilai religius, karena
dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Batu-batuan yang sering dipakai sebagai
bahan dasar pembuatan Mandau dimasa yang telah lalu yaitu: Batu Sanaman
Mantikei, Batu Mujat atau batu Tengger, Batu Montalat.
5.
Dohong.
Senjata ini semacam keris tetapi lebih besar dan tajam sebelah menyebelah.
Hulunya terbuat dari tanduk dan sarungnya dari kayu. Senjata ini hanya boleh
dipakai oleh kepala-kepala suku, Demang, Basir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar